Musim Dingin
MUSIM dingin sudah tiba dan menyelimuti kota Tokyo. Angin bertiup agak kencang malam ini. Ishida Keiko mengibaskan rambut panjangnya ke belakang agar tidak menghalangi pandangan sementara ia bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang mengarah ke gedung apartemennya. Ia menggigil karena rasa dingin mulai menembus jaket dan sweter tebalnya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, minum secangkir cokelat panas, dan makan ramen1. Memikirkannya saja sudah membuat perut keroncongan. Dingni-dingin begini memang paling enak... “Hei!” Keiko terlompat kaget dan berputar cepat. Matanya terbelalak menatap wanita dengan rambut pendek dicat pirang manyala yang sudah berdiri di sampingnya. Begitu mengenali wanita itu sebagai Sato Haruka, tetangganya yang tinggal di apartemen lantai bawah, Keiko menghembuskan napas lega. “Haruka Oneesan2,” Keiko mendesah sambil memegang dada. “Oneesan membuatku terkejut setengah mati.” Sato Haruka mendecakkan lidah dan tersenyum lebar. “Kau terlalu gampan...